Rabu, 15 Januari 2014

Mungkin Ini Adalah Kamu

Kepada kamu yang diam di sudut ruangan itu,
Aku sering kali memerhatikanmu. tersenyum diam-diam melihat wajahmu perlahan. Lalu kau menyerah pada rasa kantuk yang menyergapmu perlahan. Kau sandarkan kepalamu pada meja belajar. Aku termangku dagu. Siksaan yang menghantamku dengan keras. kau tak pernah menatapku meskipun aku seringkali menatapmu.

Ingatkah kamu pada saat malam itu? Saat aku berjalan sendiri, lalu kau datang disampingku. Kalau peristiwa tersebut masuk didalam salah satu serial adegan korea,  mungkin ada alunan lagu musik yang menggelitik merdu. Lalu wajahmu berdampingan dengan sinar bagaskara yang begitu lembut menyentuhmu. Slow motion, pertemuan mata kita saling bertemu. Lalu cut! Suara teman-teman kita memanggil lantang namamu dan namaku. Tatapan itu beranjak begitu saja. Kita berjalan sendiri-sendiri dengan langkah yang berbeda. Tahukah kamu, saat itu detak jantungku sedang menggelar oksetra dangdut? Setidaknya lagu Haji Rhoma irama yang berjudul penasaran mulai beresonansi  dalam hatiku. “sungguh mati aku jadi penasaran, sampai matipun aku kan ku perjuangkan”. Hahaha
Untukmu yang mampu membuatku tersipu malu.
Aku tak pernah merasakan apa-apa dalam hatiku. Tentu, memang tidak ada virus cinta yang menggerogoti tubuhku. Aku sangat percaya bahwa peasaan ini tercipta karena mendukungnya situasi. Hanya rasa tertarik yang muncul karena kita berbeda dimensi. Aku tak tahu perasaan ini harus disebut apa. Aku juga tidak tahu harus mempersepsikan kehadiranmu dalam hari-hariku. Tapi kadang kala aku merasa bahwa kamu adalah bagian dari diriku. Sedangkan aku (mungkin) bukan bagian dari dirimu. Pantaskah aku mengeluh jika sosokmu hanya membuat hatiku keluh?
Kepada kamu sosok yang entah harus kudeskripsikan bagaimana lagi. Aku kebingungan. Jelas, aku sangat kebingungan. Katakan, apakah kau kadang memperhatikanku? Seperti yang sering kali aku lakukan padamu. Hey, aku tak berharap kamu melotot melihat ini. Aku tak ingin mulutmu menganga karena kebingungan setiap kalimat-kalimatnnya. Mungkin kau tak menyangka bahwa akulah yang menulis ini. Pasti kau membayangkan keseharianku, lalu membandingkannya dengan kebodohanku dalam surat ini. Aku memang bodoh. Atau katakan saja bahwa aku tolol. Mungkin kau benci dengan sosok pengecut ini.  Mungkin kamu benci dengan aku yang tidak pernah menyapamu lebih dulu. Memang, ini salahku. 
Aku begitu cepat tergoda pada pesonamu yang menyilaukan mata.

Aku terlalu cepat memberhentikan hatiku di KAMU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar